Pergi Kesekolah Naik Sepeda, Why Not?

Bike to School, Kenapa Enggak?

KOMPAS.com — Bagi Yosia Besta, jarak memang bukanlah halangan untuk ditempuh dengan bersepeda pergi-pulang sekolah. Siswa kelas II SMA Yadika 5 Jakarta Barat itu sudah biasa bersepeda ke sekolah sejak kelas II SMP dan kebiasaan itu terus berlanjut sampai sekarang.

Soal keringat? Besta cukup membawa handuk dan tidak terlalu khawatir karena ruangan kelasnya berpendingin udara. “Kalau pagi kan tidak terlalu panas, jadi naik sepeda kenapa enggak,” tutur Besta dengan nada cuek. Sepeda mini lungsuran dari sang kakak sudah dua tahun terakhir setia menemaninya menyusuri jalan-jalan di kawasan Karang Tengah, perbatasan Jakarta dengan Tangerang.

Di Tebet, Jakarta Selatan, M Fajar Nur Rohman juga tak ambil pusing untuk bersepeda ke sekolah setiap hari. Dari rumahnya di kawasan Gudang Peluru, dia menempuh jalan sekitar empat kilometer ke sekolahnya SMKN 32 di Jalan Tebet Selatan, dengan sepeda Federal yang dibeli dari temannya seharga Rp 50.000 saja.

“Sering juga diledekin tapi cuek aja lah, kan sepeda sendiri. Yang bikin gondok cuma soal parkir, selalu digeser-geser sama sepeda motor,” tutur pelajar kelas II jurusan restoran tersebut.

Dengan cara dan kiatnya masing-masing, sebagian kecil pelajar di Jakarta memilih bersepeda ke sekolah. Selain berhemat, mereka umumnya sadar betul kalau sepeda merupakan alat transportasi yang ramah lingkungan dan menyehatkan.

“Enggak perlu banyak ngomong soal usaha mencegah pencemaran udara. Kita naik sepeda aja udah ngebantu mencegah polusi dan global warming kan,” kata Axel Irianto, siswa kelas XII SMA Charitas.

Di Jakarta, gini hari, naik sepeda ke sekolah memang belumlah menjadi pilihan populer. Di setiap sekolah, jumlah pelajar yang bersepeda ke sekolah mungkin bisa dihitung dengan jari. Namun dengan menghimpun diri dalam paguyuban Bike To School, mereka yakin dapat melakukan sesuatu yang lebih berarti untuk memassalkan aktivitas bersepeda ke sekolah.

“Kalau sendiri-sendiri memang susah ngajaknya, tapi kalau banyakan, saya rasa bebannya lebih ringan,” tutur Anindito Bayhaqie, pelajar kelas II SMA Kolese Kanisius yang setiap hari bersepeda ke sekolah seorang diri.

Moris Semuaji, pelajar kelas II SMA Lab School Kebayoran yang terpilih sebagai ketua Bike To School, mengatakan, paguyuban ini merupakan gerakan yang diselenggarakan dari, oleh, dan untuk pelajar. “Kita akan terus-menerus mengajak sebanyak mungkin teman-teman bersepeda ke sekolah,” tuturnya. (Maximillianus Agung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s