Bumi Merah, Panas Terpanggang, Manusia Patut Disalahkan.

Bumi Makin Panas,Itu Salah Manusia
“Makin merasa kaya makin banyak emisi karbon.”

VIVAnews – Untuk menjaga suhu Bumi tetap hangat manusia membutuhkan selubung gas rumah kaca. Namun, ketebalan gas rumah kaca bisa makin tak terkendali.

Bahkan, hasil penelitian Universitas New South Wales, Australia dan Universitas Purdue, Amerika Serikat menyebutkan, dalam kurun waktu kurang dari tiga abad, separuh Bumi bakal terlalu panas untuk manusia dan mengancam kelangsungan hidup manusia.

Para peneliti mengatakan, perubahan iklim tidak akan berhenti pada 2100. Hingga tahun 2300, kita mungkin akan berhadapan dengan peningkatan temperatur sebesar 12 derajat atau bahkan lebih — sebagai akibat dari emisi gas rumah kaca.

Pemanasan global juga diyakini akan melelehkan es memicu kenaikan permukaan  air laut.

“Konon, manusia berasal dari ikan, mungkin saja kita kembali berevolusi jadi ikan karena kenaikan level air laut,” kata Direktur Program Iklim dan Energi, WWF Indonesia, Fitrian Ardiansyah dalam seminar “ Memahami Perubahan Iklim: Panduan Jurnalis untuk Meliput”  yang dilaksanakan atas kerjasama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Kedutaan Besar Australia di Jakarta.

Efek rumah kaca, tambah dia, bukan hanya isu  perubahan iklim, tapi juga isu ekonomi.

“Efek rumah kaca disebabkan aktivitas ekonomi, semua manusia ikut bertanggung jawab,” kata Fitrian.

Tindakan bukan lagi sekedar kebijakan harus dilakukan untuk mengurangi emisi, terutama yang dihasilkan oleh aktivitas manusia.

Salah satunya dengan penghematan, baik BBM [bahan bakar minyak] maupun penggunaan listrik. “Semakin  ekonomi naik semakin naik penggunaan listrik.  Makin merasa kaya makin banyak emisi karbon, entah dari bahan bakar minyak dan penggunaan listrik. ” kata Fitrian.

Pemerintah juga seharusnya memberikan opsi-opsi, misalnya membedakan tarif listrik antara orang yang mampu dan masyarakat kebanyakan. “Saat ini, listrik di Pondok Indah nggak jauh beda bayar listrik dengan kawasan kumuh,” kata Fitrian.

Yang tak kalah penting adalah menggunakan energi terbarukan, yang sayangnya belum jadi prioritas pemerintah Indonesia.

Misalnya, penggunaan bio energi,  energi gas dan panas bumi. “Gas banyak dikirim ke negara lain misalnya China, sementara, panas bumi secara nasional kita pakai 3-4 persen, padahal itu sumber daya terbarukan,” kata dia.

Bagaimana dengan energi nuklir? “Jika pemerintah belum bisa menjamin bisa membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) teraman di dunia,  PLTN tetap jadi opsi terbawah,” kata Fitrian.

Berhenti menyalahkan

Dampak pemanasan global mengancam semua negara tanpa terkecuali.

Apalagi, “emisi tak punya paspor,” kata Robert Law dari Kedutaan Besar Australia dalam seminar yang sama.

Yang terpenting, tambah Law, adalah mengurangi emisi secara global.

Mekanisme perdagangan karbon dalam skema Reducing Emission From Deforestation in Development Countries (REDD) jadi salah satu solusi yang ditawarkan.

“Mekanisme ini baik untuk negara maju dan berkembang. Mereka mendapat keuntungan finansial dan pengurangan emisi secara global,” tambah dia.

Namun, mekanisme REDD bukan berarti tanpa kritik. Terutama soal masyarakat lokal yang hidup bergantung hutan. Atas nama kelestarian alam, para penduduk lokal bisa terusir dari tanah nenek moyangnya.

“Aspek masyarakat lokal, mungkin kita belum punya semua jawaban, tapi saya yakin negosiator Indonesia dan Australia dan semua negara sadar dan berjuang membuat sistem yang responsif terhadap kehawatiran ini,” kata dia.

Sementara,  Indonesia-Australia Forest Carbon Partnership, Neil Scotland mengungkap fakta mengejutkan. “Akibat kebakaran gambut, Indonesia jadi negara tiga besar rumah kaca,” kata dia.

Oleh karena itu fokus kebijakan lingkungan harus berfokus terutama pada pelestarian hutan dan gambut.

Misalnya, kata dia, Indonesia dan Australia bekerja sama membuat gambut tetap basah supaya tidak terjadi kebakaran lahan.

Tak dilupakan, bagaimana melibatkan masyarakat lokal dalam proyek ini. “Tak mungkin ada solusi tanpa dukungan masyarakat,” kata dia.

Terkait polemik siapa yang paling bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan, apakah negara maju atau berkembang, jawab Scotland, “Lupakan siapa bertanggung jawab, Australia, Belanda, Indonesia, yang terpenting bagaimana kerja sama ke depan mencari solusi.” (umi)

• VIVAnews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s