Stop Global Warming, Stop Monster Tambang

Stop Monster Tambang! Ikan Kencana Bari Terancam Punah
 
 

Oleh : P. Alexander Jebadu SVD

Rasanya saat ini, para bupati ketiga kabupaten di Manggarai bersama jajaran pemerintah daerah mereka masing-masing dan para investor domestik maupun asing sudah tidak bisa lagi membohongi rakyat Manggarai maupun rakyat Flores pada umumnya. Bukti-bukti,  yang menunjukkan bahwa pengerukan mineral bumi merupakan sebuah monster (=malapetaka)  amat berbahaya, sangat kasat mata. Jeritan demi jeritan tentang monster ini sudah datang dari mana-mana. Jumlah teriakan sudah banyak dengan satu pesan  utama: penggalian tambang membawa malapetaka bagi tanah, ekonomi dan kelangsungan hidup rakyat ketiga kabupaten di Manggarai maupun rakyat Flores pada umumnya.

Seperti yang diberitakan Harian Flores Pos Rabu 14 Januari 2009 halaman 7, limbah tambang mangan di Serise, Kecamatan Lambaleda maupun di Torong Besi, Kecamatan Reok sudah menyebar ke perairan laut Reo. Laut yang dihempas ke tepi pantai telah berwarna hitam. Para nelayan setempat mengaku telah kesulitan mendapatkan ikan. Dari berita ini ada beberapa hal yang langsung mencuat dalam pikiran kita. Pertama, pengerukan mangan di kedua lokasi ini (Torong Besi dan Serise) belum sampai   berapa lama, tapi akibatnya sudah bisa langsung dirasa dan dilihat. Air laut kotor dan ikan-ikan  hilang. Para nelayan kehilangan sumber untuk hidup. Kedua, kalau setelah satu dua tahun pengerukan tambang sudah berakibat sedemikian fatal, apalagi setelah penambangan berlangsung puluhan tahun. Dalam jangka panjang malapetaka yang diakibatkan  oleh pembelahan perut bumi untuk keruk tambang akan lebih banyak lagi dan lebih fatal. Akan terjadi pengrusakan tanah pertanian, pengrusakan hutan, mata air di sekitar wilayah pertambang akan kering, polusi udara, polusi air sungai, polusi air laut dan polusi tanah.  Supaya malapetaka-malapetaka ini tidak menimpa bumi Manggarai dan penduduknya, ketiga  bupati Manggarai mesti berpikir pintar dan bijaksana.  Jangan cepat tergiur dengan tuak  (baca: uang pelicin) investor asing. Mereka mesti berpikir jauh ke depan dan hentikan penggalian tambang.

Rahim tanah Flores ternyata memang tidak kalah dibandingkan dengan bagian-bagian lain dari planet ini. Ia kaya akan mineral-mineral seperti emas,  mangan, timah, tembaga hitam dan marmer. Pada tahun 1980-an, penulis – kala itu masih di bangku SD – sering menyaksikan kawanan helikopter terbang rendah di gunung-gunung dan lembah Manggarai utara seperti Dampek, Reo, Ruis, Nggalak, Ndoso, Rego, Bari, Pacar, Nggorang dan Boleng. Lalu para insinyur keluar-masuk kali dan sungai, naik-turun gunung dan bukit.  Uuh, sekarang baru kita tahu maksud petualangan mereka kala itu. Mereka melakukan eksplorasi mineral bumi dan kini, setelah main mata dengan pemerintah lokal, mulai mengeksploitasinya (=menggali).

Mangan Lake dan Nggilat

Seperti Serise di Kecamatan Lambaleda dan Torong Besi di Kecamatan Reok, menurut informasi dari banyak sumber, ternyata wilayah Manggarai utara mulai dari Lambaleda hingga Boleng/Labuan Bajo kaya akan tambang mangan dan emas.  Salah satu contoh adalah kandungan mangan di desa Nggilat dan di Lake, desa Rokap di bekas wilayah Hamente Rego yang kini menjadi bagian dari Kecamatan Pacang Pacar dengan ibu kota Bari. Nggilat terletak di pinggir pantai, sekitar 15  km ke arah utara dari Rego dan sekitar 10 km ke arah timur dari Bari. Sedangkan Lake terletak sekitar 5 km ke arah barat dari Rego dan sekitar 10 km ke arah timur-selatan dari Bari.

Menurut Ir. Crist dari PT Galih Pradipta Bandung, yang dituturkannya kepada seorang anggota masyarakat di Bari (2007), kandungan mangan di Nggilat, kalau jadi dieksploitasi, baru akan habis digali secara besar-besaran dalam kurun waktu 80 tahun. Itu artinya, volume kandungan mangan di tempat ini sangat banyak. Karena itu, kata Ir.Cris,  perusahan tambang mangan (kalau mangan ini jadi digali) mesti mendirikan fasilitas TK, SD dan SMU sendiri bagi anak-anak karyawan dari penambang mangan.   Lebih jauh Ir. Cris menginformasikan bahwa mangan di wilayah Rego ini (Nggilat dan Lake) diperkirakan berasal dari sebuah letusan gunung api yang meletus beberapa abad yang lalu.  Pusat gunung api yang pernah meletus ini terletak di sekitar kampung Pateng-Rego dan sekitarnya. Diperkirakan semua wilayah sekitar Golo Renteng, kampung Bungku, kampung Mbakung, kampung Hawir, Lake-Rokap sampai  kampung Nanga Asu dan Nggilat merupakan muntahan lahar gunung api yang dulu berpusat di Rego itu. Sekarang, muntahan lahar gunung api yang mengandung mineral tinggi ini (mangan dan diperkirakan juga emas) sudah sedang siap-siap untuk dikeruk oleh perusahaan tambang domestik maupun asing. Menurut informasi yang kita peroleh dari masyarakat setempat di Bari (2007/2008), bupati Mabar sudah meresmikan  pembangunan dermaga di Nanga Kobo, Bari untuk mengangkut mangan dari Nggilat dan Lake, lalu dibawa dengan kapal tongkang untuk selanjutnya diolah di Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Tidak bisa disangkal. Pasti ada keuntungan dari eksploitasi tambang mangan di Nggilat dan Lake untuk masyarakat lokal. Orang kampung di Rokap dan Nggilat, Bungku dan Mbakung serta orang Rego, Pacar dan Bari pada umumnya pasti  senang karena eksploitasi tambang membantu buka isolasi wilayah mereka. Jalan menuju kampung-kampung mereka akan dibuka.  Tapi kalau mereka tahu keganasan penambangan, maka keuntungan ini terlalu kecil dan hampir tidak sebanding dengan kerusakan yang akan ditimbulkannya.  Untuk jangka panjang, kerugian akibat penambangan mangan di Nggilat dan Lake serta tempat-tempat lain di Manggarai utara jauh lebih besar. Berikut kita sebut  beberapa kerugian eksplotasi tambang yang bakal diderita.

Pertama, penambangan mangan di kedua tempat ini tidak bisa tidak akan merusakkan hutan lindung dan hutan negara. Seperti kita ketahui, wilayah Manggarai utara yang membentang dari Reo, Ruis,  Nggalak, Rego, Bari, Pacar, Boleng dan  Nggorang termasuk wilayah Manggarai dengan sisa hutan lindung dan hutan negara paling luas. Kalau wilayah ini dijadikan medan penggalian tambang, maka tamatlah riwayat hutan di wilayah ini yang pada gilirannya akan diikuti perubahan iklim dan kekurangan curah hujan. Para petani pasti gagal panen. Kalau hal ini sampai terjadi, maka sungguh bodohlah generasi kita. Coba bayangkan! Bukankah kita sedang menghadapi global warming (pemanasan bumi secara global)? Bukankah kita sedang mengalami krisis ekologi (seperti banjir, longsor, abrasi)  dan karena itu kita sedang berupaya reforestrasi (penghutanan kembali) wilayah-wilayah tertentu yang selama ini sudah gundul?  Tapi pada saat yang sama, mengapa kita membiarkan hutan yang masih  ada di Manggarai  dirusakkan oleh eksploitasi tambang mangan, yang hasilnya nanti sebagian besar dimuat ke luar negeri dan kita hanya dapat keuntungan berupa buka jalan setapak masuk desa?  Mengapa tindakan kita menjadi begitu bodoh, aneh dan irasional?

Kedua, penambangan pada umumnya, termasuk kalau nanti jadi penambangan di Nggilat dan Lake, akan mengurangi debit air, bahkan bisa mengeringkan mata air di sekitar wilayah tambang. Penggalian tambang oleh mesin-mesin alat berat akan tidak main-main. Tentang hal ini penulis melihatnya sendiri. Penulis pernah 6 tahun (1998-2004) bekerja di negara bagian West Virginia, USA. West Virginia memiliki kandungan  batubara terbesar dunia setelah Inggris. Di sana, alat-alat mesin berat bisa bongkar gunung dan bukit sebesar apapun siang dan malam 24 jam tanpa henti. Mereka bisa gali sampai ratusan meter ke dalam perut bumi. Selain karena hutan di sekitarnya dibabat, air dalam tanah bukan lagi mengalir keluar tapi mengalir masuk ke dalam perut bumi mengikuti lubang-lubang dalam yang digali alat berat perusahaan tambang. Hal yang sama akan terjadi di bumi Manggarai utara,  termasuk di Nggilat dan Lake, kalau demi tambang bagi perusahaan asing kita biarkan tanah Manggarai dan Flores pada umumnya digali dan disobek-sobek. Apalagi topografi tanah Flores bergunung-gunung dan miring. Sekali topografi bumi Flores yang miring digali dan dikeruk-keruk serta digundulkan, maka air tanah tidak akan bertahan dan kering.

Ketiga, penambangan pada umumnya  akan mengakibatkan polusi air.  Kalau  penambangan mangan di Nggilat dan Lake nanti tetap jadi, maka dua sungai utama wilayah ini akan polusi (tercemar), yaitu Wae  Nanar dan Wae Mbakung. Wae Nanar mengalir dari Rego dan Pacar melewati Rokap dan Raba menuju Bari lalu kemudian masuk laut Flores. Sedangkan sungai Wae Mbakung mengalir dari Rego sedikit ke arah utara melalui Kampung Hawir dan Mbakung  menuju kampung Nggilat di tepi pantai  lalu seterusnya masuk ke laut Flores. Limbah kotor dari penggalian tambang mangan di Nggilat dan Lake masing-masing akan mengotorkan kedua sungai ini. Akibat buruk yang tidak bisa dihindari jelas: 1) Wae Mbakung yang mengalir dari Golo Renteng,  Mbakung dan Rego akan tercemar dan orang Nggilat yang selama ini menggantungkan diri pada sungai ini akan kesulitan air untuk minum dan mandi.  Wae Nanar juga akan tercemar limbah pengalian mangan di Lake dan orang di kampung Bari, Baritua dan Koja akan kesulitan air untuk minum dan mandi. 2)  Berhektar-hektar sawah di Koja, Baritua dan Balang di wilayah Bari akan gagal. Kebun-kebun kelapa dan jambu mente orang Nggilat dan Mbakung akan rusak. 3) Binatang-binatang sepajang sungai Wae Mbakung dan Wae Nanar seperti belut (tuna air tawar) dan udang air tawar juga akan ikut punah.

Keempat, limbah kotor penambangan mangan di Nggilat dan Lake, sekali lagi kalau tambang ini jadi digali (dan juga tambang emas Tobedo di Boleng yang sungai-sungainya mengalir menuju sawah Terang – salah satu lumbung padi terbesar untuk Manggarai Barat),  yang dibawa Wae Nanar dan Wae Mbakung,  akan mengotori laut Flores dan akan mematikan salah satu satwa paling langka di perairan ini yaitu ikan kencara. Ikan kencara hanya berhabitat di laut utara Flores mulai dari Torong Besi sampai Pulau Seraya  yang terletak tak seberapa jauh di sebelah timur Labuan Bajo. Kalau mangan di Nggilat dan Lake digali, kita ucapkan selamat jalan dan RIP (Requescat in pace = semoga beristirahat dalam damai) bagi jenis ikan kencara dan juga satwa-satwa lainnya di laut Flores. Orang Manggaraipun akan kehilangan salah satu diet-nya selama ini. Para nelayan  sepajang pantai utara mulai dari Reo, Torong Besi, Robek, Piso, Nggilat, Nanga Asu, Bari, Nanga Kantor, Terang hingga sebelah timur Labuan Bajo akan kesulitan untuk mendapat ikan lagi. Mereka akan kehilangan pekerjaan sebagai nelayan.

Sehubungan dengan issue tambang, para bupati dan jajarannya biasanya berdalih bahwa mereka mengisinkan inverstor asing mengeksploitasi tambang untuk meningkatkan pendapatan daerah (APBD) untuk mempercepat peningkatan  kesejahteraan rakyat. Tapi berapa sih besarnya pendapatan dari tambang nanti? Menurut informasi yang kita peroleh, pihak-pihak pertama yang mendapat keuntungan dari isinan eksploitasi tambang adalah saku-saku pribadi para bupati, dinas pertambangan dan instansi-instansi terkait lainnya. Mereka ini kelompok penerima tuak-tuak inverstor asing dalam rupiah berjumlah besar. Untuk rakyat kebanyakan? Paling-paling mereka akan kejipratan imbas tambang berupa jalan raya masuk kampung-kampung mereka. Tapi sekali lagi, imbas ini tak ada artinya dibandingkan dengan kerusakan mahadasyat yang ditimbulkan oleh eksplotasi tambang.

Sejumlah orang berpendapat bahwa kontribusi tambang bagi APBD akan mempercepat laju pembangunan sosial dan ekonomi rakyat. Terhadap mimpi ini kita harus katakan bahwa ini tidak sepenuhnya benar. Ini hanya sebuah mitos dan bohong. Bagaimana mungkin para bupati memimpin pembangunan yang mensejahterakan rakyat dengan membiarkan alamnya dirusakkan untuk selama-selamanya oleh eksploitasi tambang? Aneh dan tak masuk akal: pemerintah mensejahterakan rakyat dengan membiarkan tanah sumber kehidupan mereka diobrak-obrik dan dibiarkan rusak untuk selama-lamanya. Dengan demikian, kebijaksanaan meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan mengisinkan pengeksploitasian tambang di Manggarai atau Flores pada umumnya dengan sendirinya menjadi sebuah kontra in terminis: membangun daerah dengan menghancurkannya pada zaat yang sama. Masyarakat primitif sekalipun tidak akan menempuh kebijakan seperti ini. Selain itu, masyarakat lokal di sekitar wilayah tambang-tambang di mana-mana di seluruh di dunia tidak pernah kaya dan sejahtera. Orang Papua di Freeport tetap miskin kendati emas mereka sudah digali perusahan Amerika selama puluh-puluh tahun. Sungai dan hutan mereka sudah lama rusak dan kotor dan tak terpakai lagi sebagai sumber irigasi.

Contoh Monster Tambang

Seperti yang disaksikan penulis sendiri, penduduk Amerika Serikat di negara bagian West Virginia tidak pernah kaya dan sejahtera oleh kandungan batubara terbesar dunia sesudah Inggris yang ada di wilayah mereka. West Virginia tetap dijuluki sebagai  one of the poorest states (salah satu negara bagian paling miskin) di Amerika Serikat kendati batubara West Virginia sudah digali sejak  awal abad 19. Hingga hari ini, orang West Virginia menderita karena ketiadaan pekerjaan (unemployment) dan hidup dari welfare (semacam bantual sosial bagi fakir miskin) yang diberikan pemerintah federal.

Seperti yang diberitakan Brook Lamer (lihat „Gold: The True Cost of Global Obsession” dalam majalah National Geographic 1 January 2009, pp. 41-61), Tambang Emas Newmont di Pulau Sumbawa telah menyisakan kerusakan alam yang sangat hebat. Setelah 9 tahun penambangan (sejak dibuka tahun 2000), tambang emas Newmont memperkerjakan 8.000 pekerja Indonesia tapi jutaan bahkan milliaran ton  batu dan pasir telah melenyapkan rain forest (hutan belantara yang mendatangkan hujan) Pulau Sumbawa. Untuk mendapatkan 1 ons emas (senilai emas sebuah cincin nikah), perusahaan tambang harus membongkar keluar tanah dan batu dari dalam perut bumi sebanyak 250 ton. Akibatnya, di sana terbentuk sebuah lubang raksasa (semirip stadion) dengan diameter bagian atas selebar sekitar 1 mile (= 1,6 km) dengan dasar lubang sedalam 345 kaki (sekitar 85 m )  di bawah permukaan laut.  Tapi hingga hari ini, orang Sumbawa di sekitar tambang Emas Newmont tidak lebih sejahtera dari keadaan sebelumnya. Menurut majalah National Geographic (1 Januari 2009), emas dan tembaga di Sumbawa akan habis dalam tempo 20 tahun lagi.  Setelah emas habis, para penambang Amerika akan pulang ke negerinya sambil mengakut semua harta karun emas yang selama berabad-abad tesembunyi di perut tanah Sumbawa dan meninggalkan lubang tanah raksasa ternganga selama-selamanya, dan orang Sumbawa, kalau tidak tetap miskin seperti sekarang, sangat mungkin akan semakin miskin karena tanah, sungai dan laut mereka sudah tercemar limbah tambang.

Apakah para bupati Manggarai dan para bupati Flores pada umumnya juga mau supaya rakyat Manggarai/Flores dan tanah mereka juga mengalami nasib seperti ini? Kalau para bupati ini sungguh pintar dan  arif, punya hati dan telinga untuk mendengar, maka tidak ada pilihan lain kecuali mereka mesti segera menghentikan eksploitasi tambang di Manggarai dan Flores pada umumnya dan membatalkan semua penambangan yang masih dalam tahap perencanaan.  Kalau mereka tak punya hati untuk mendengar, maka hal ini –  selain karena alasan-alasan yang dibeberkan di atas – pemerintah juga mesti ingat bahwa Pulau Flores berpenduduk cukup padat. Setiap 1 km sudah ada pemukiman manusia dan kebun-kebun mereka. Dengan penduduk padat yang demikian, tambang di Flores hanya bisa diisinkan untuk dieksplotasi  kalau para bupati dan jajaran pemerintahnya  terlebih dahulu mengangkut semua penduduk Flores ke sebuah pulau lain yang masih kosong atau tenggelamkan saja mereka ke dalam laut. Kalau hal ini dirasa tak mungkin dilakukan, karena terlalu uncivilized (tak beradab), tak manusiwi dan sadis, maka jalan yang terbaik adalah hentikan monster tambang.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s